Tiga Periode Sejarah Berdirinya Banjarnegara
Cari Berita

Advertisement

Tiga Periode Sejarah Berdirinya Banjarnegara

Redaksi

Banjarnegara TV - Kabupaten Banjarnegara memiliki sejarah yang cukup panjang selama ratusan tahun silam. Saking panjangnya, perjalanan sejarah berdirinya Banjarnegara bisa dibagi menjadi tiga periode.

Alun-Alun Banjarnegara


Periodisasi sejarah Banjarnegara ini mungkin masih cukup asing bahkan bagi warga lokal. Oleh karena itu, untuk melestarikan budaya penting sekali mengenal sejarah Banjarnegara sebagai kota kelahiran.

Berikut adalah ringkasan tiga periode sejarah Banjarnegara yang sudah Banjarnegara TV rangkum.


1. Periode Banjar Petambakan

Periodisasi Kabupaten Banjarnegara yang pertama dikenal dengan Banjar Petambakan (1582-1780). Pada periode ini wilayah Banjarnegara ada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. 

Sejarah pendirian Banjarnegara pada masa ini erat kaitannya dengan Raden Joko Kaiman yang membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian dan salah satunya Banjar Petambakan.

Selama masa Banjar Petambakan sebanyak 13 bupati menjabat termasuk di antaranya KRT Wirakusuma dan KRT Wirawijaya yang dikenal sebagai bupati konservasi. Lantaran fokus pada reboisasi serta penciptaan lingkungan sejuk dan subur serta engembangan pertanian.

Bupati lain yang dikenal karena jasanya adalah KRT Purwonagoro dan KRT Tambakyuda yang membangun jiwa wirausaha di Banjar Petambakan. KRT Purwonagoro mendorong industri kecap. Sedangkan KRT Tambakyuda membangun irigasi Kali Serayu untuk memperkuat ketahanan pangan. 

Lalu ada KRT Reksawijaya atau bupati ke-9 yang menyoroti soal pemberdayaan perempuan. Pada masanya, perempuan diajari kerajinan payung kebesaran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Termasuk perannya dalam penerbitan Serat Kandha yang menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan dan emansipasi. 

Secara umum, Periode Banjar Petambakan memperlihatkan perkembangan sosial dan ekonomi yang signifikan dalam sejarah Kabupaten Banjarnegara.


2. Periode Banjarwatu Lembu

Periode yang kedua dikenal dengan Banjarwatu Lembu (1780-1831). Periode ini ditandai dipindahnya pusat pemerintahan Kabupaten dari timur ke barat Sungai Merawu, sekitar Balai Desa Banjarkulon. 

Hanya ada dua bupati yang menjabat selama masa ini yaitu KRT Mangunyuda dan KRT Kertoyudo. KRT Mangunyuda fokus pada pembangunan dan kerjasama dengan Bupati Purbalingga untuk memajukan bidang perencanaan, perdagangan, dan pertanian. Ia juga mengikuti pelatihan manajemen di Surabaya guna meningkatkan pemasaran produk unggulan daerah seperti gula kelapa. 

Periode Banjarwatu Lembu berakhir dengan berakhirnya Perang Diponegoro (1830). Perang tersebut telah merubah struktur politik di Keraton termasuk juga Banjoemas yang mencakup Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.


3. Periode Banjarnegara

Usai Perang Diponegoro (22 Agustus 1831) Gubernur Jenderal menetapkan KRT Dipayuda IV sebagai Bupati Banjarnegara. Pengangkatan KRT Dipayuda IV ini kemudian ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.

Namun, ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan tanggal tersebut. Lantaran mempertimbangkan momen lain yang lebih dahulu seperti Peristiwa Mrapat atau Peristiwa Mangunyuda Sedoloji.

Lalu pada akhirnya nama Banjarwatu Lembu diubah menjadi Banjarnegara setelah proses meditasi spiritual. Ibu kota kabupatennya juga dipindah ke selatan Sungai Serayu.

Setelah KRT Dipayuda IV, beberapa bupati melanjutkan pemerintahan, termasuk KRT Djayadiningrat dan KRT Joyonegoro I, hingga penjabat bupati terakhir yang dilantik pada Mei 2024 kemarin adalah Muhamad Masrofi.

Itulah tiga periode sejarah Banjarnegara yang cukup panjang dan berlangsung sejak ratusan tahun lalu.