Banjarnegara TV - Ratusan warga dari Desa Gumelem Wetan dan Desa Gumelem Kulon kembali menggelar tradisi Nyadran Gedhe jelang Ramadan 2024. Pelaksanaan tradisi yang sudah dilakukan turun temurun tersebut digelar pada Kamis, (7/3/2024) kemarin.
![]() |
Dokumentasi Tradisi Nyadran Gedhe Desa Gumelem, Susukan, Banjarnegara. (Banjarnegara TV/doc. Ahmad In’amul Maula) |
Warga dari dua desa yang berada di wilayah Kecamatan Susukan, Banjarnegara tersebut berkumpul dan makan bersama di area petilasan Ki Ageng Girilangan dan Makam Ki Ageng Chesan Besari.
Arif Machbub, tokoh agama yang juga Kepala Desa Gumelem Kulon, menjelaskan bahwa Nyadran Gedhe dilakukan di dua tempat. Yaitu area makam Ki Ageng Gumelem dan di petilasan Ki Ageng Girilangan.
"Ini memang tradisi rutin dilakukan setiap menjelang Ramadan. Acaranya ada di petilasan Ki Ageng Girilangan dan area makam Ki Ageng Gumelem. Ada berdoa bersama, ada bersih makam, dan makan tumpeng Bersama," papar Arif.
Bagi warga Desa Gumelem, Ki Ageng Girilangan dan Ki Ageng Chasan Besari adalah ulama yang sudah menyiarkan agama Islam di Desa Gumelem. Sehingga petilasan dan makam keduanya menjadi tempat yang dijaga dan menjadi tempat ziarah banyak peziarah.
"Dua orang ini adalah tokoh yang menyebarkan agama Islam di Gumelem. Termasuk yang mengubah nama dari Karang Tiris menjadi Gumelem," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Ki Ageng Girilangan merupakan utusan Kerajaan Mataram yang datang ke Dukuh Karang Tiris untuk menyebarkan agama Islam.
Adapun Ki Ageng Chasan Besari yang dikenal pula dengan nama Ki Ageng Gumelem adalah juru kunci petilasan Ki Ageng Girilangan yang kemudian menjadi demang pertama.
![]() |
Dokumentasi Tradisi Nyadran Gedhe Desa Gumelem, Susukan, Banjarnegara. (Banjarnegara TV/doc. Ahmad In’amul Maula) |
Sebagai sebuah ritual budaya yang sarat nilai spiritualitas, Nyadran Gedhe dimaksudkan untuk menutup bulan sadran dan menyambut datangnya bulan Ramadan.
Tradisi Nyadran Gedhe juga jadi penanda bahwa selama bulan Ramadan aktivitas ziarah di kawasan makam Girilangan ditutup dan tidak menerima peziarah.
Sebelum prosesi Nyadran Gedhe dilakukan, warga sebelumnya telah menggelar khol atau haul Ki Ageng Chasan Besari pada Rabu (6/3) malam.
Keesokan harinya warga Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon berkumpul bersama. Semuanya datang dengan memakai busana adat Jawa.
Proses Nyadran Gedhe diawali dengan resik kubur dan kerja bakti. Para warga tampak semangat saat berjalan dari Masjid Ki Ageng Chasan Besari menuju petilasan Ki Ageng Girilangan.
Rombongan warga membaca lantunan selawat yang diiringi tabuhan rebana. Lantunan selawat itu tak putus dilantunkan sepanjang jalan. Beberapa warga juga membawa tumpeng dan aneka lauk pauk.
Warga yang sampai di area makam segera membersihkan makam. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama nasi tumpeng beserta lauk pauk yang sudah disiapkan sebelumnya.
Semua warga menikmati nasi tumpeng dengan model ‘kepungan’ di area petilasan Ki Ageng Girilangan dan di area makam Ki Ageng Gumelem. Tradisi makan bersama ini juga perwujudan syukur atas datangnya Ramadan.
"Isinya ada nasi, sayur, lauk-pauk, kerupuk, olahan daging seperti opor hingga gulai," ungkap Khamirun, juru kunci makam Ki Ageng Gumelem.
![]() |
| Dokumentasi Tradisi Nyadran Gedhe Desa Gumelem, Susukan, Banjarnegara. (Banjarnegara TV/doc. Ahmad In’amul Maula) |
Tradisi Nyadran Gedhe Desa Gumelem Banjarnegara tak hanya jadi wujud pelestarian budaya. Tetapi juga bukti kebersamaan dan kekeluargaan warga Desa Gumelem dalam pengungkapan rasa syukur atas nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Serta suka cita atas datangnya bulan suci Ramadan.



