Banjarnegara Onthel Antik (Barontik): Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan
Cari Berita

Advertisement

Banjarnegara Onthel Antik (Barontik): Merawat Budaya, Mempererat Persaudaraan

Banjarnegara TV - Rombongan ‘pejuang’ yang mengonthel sepeda tua dengan iringan nyaring bunyi bel, seolah mencuri panggung Kirab Budaya Peringatan Hari Jadi ke-453 Banjarnegara beberapa waktu lalu.

 

Anggota Barontik Ikuti Kirab Budaya Hari Jadi Banjarnegara ke-453.
(Banjarnegara.tv/Doc Pribadi Barontik)

Kring… kring… kring… suara nyaring dari puluhan sepeda tua membelah jalanan kota yang ramai. Kehadiran pesepeda yang mengenakan kostum pejuang nasional Indonesia serta seragam militer prajurit semasa perang dunia telah meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Mereka adalah para punggawa Barontik alias Banjarnegara Onthel Antik.

 

Sebagai komunitas sepeda tua, Barontik hampir tak pernah absen dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Eksistensi Barontik,  sebagai wadah bagi para pecinta sepeda tua telah ikut andil dalam upaya memajukan pariwisata Banjarnegara. Tak heran kehadiran Barontik menjadi salah satu peserta kirab yang paling dinantikan.

 

Sebagian besar warga Banjarnegara mungkin mengira jika Barontik adalah komunitas sepeda tua dan antik yang belum lama berdiri. Mengingat kepengurusan Barontik baru secara resmi dikukuhkan pada 16 Februari 2019 dengan Suryono, SE sebagai ketua. 

 

Namun, sejatinya penamaan Barontik sudah digagas dan muncul sejak tahun 2014. Kala itu, ada segelintir yang berkumpul bersama karena menyukai sepeda onthel jadul. Lambat laun, para penggagas ini berinisiatif untuk menciptakan untuk kelompok mereka.

 

“Dulu belum sampai terpikir ada organisasinya, ada kepengurusannya, hanya baru nama Barontik yang dibuat pada tahun 2014,” ungkap M. Iqbal Azhari, sekretaris Barontik.

 

Melihat sejarahnya, Barontik yang sejatinya sudah mulai terbentuk sejak satu dekade lalu kini telah menjadi salah satu komunitas yang tak hanya menyalurkan hobi tapi juga melestarikan budaya. 

 

Menariknya, Barontik mampu mengumpulkan pecinta sepeda tua dari berbagai kalangan. Tua, muda, pelajar, pekerja, pengusaha, hingga ASN berkumpul bersama atas dasar kecintaan pada mereka pada budaya dan ‘pit antik’.

 

“Anggotanya dari berbagai kalangan dan latar belakang profesi yang beragam, pokoknya lengkap, tapi ketika sudah kumpul kita melepas seragam masing," jelas Iqbal.

 

Sampai saat ini total anggota aktif Barontik berjumlah 40 orang dan belum termasuk partisipan. Ada beberapa partisipan yang memang belum menjadi anggota resmi. Sebab untuk bisa diakui dan dianggap layak sebagai anggota Barontik, partisipan harus paling sedikit mengikuti tiga event.

 

Anggota Barontik akan berkumpul dan gowes bersama pada hari Minggu pekan terakhir setiap akhir bulan. Selain agenda rutin sebulan sekali tadi, Barontik juga kerap mengadakan event besar semisal perayaan ulang tahun Barontik.

 

Adapun event lain seperti peringatan Hari Pahlawan, HUT Kemerdekaan RI, HUT Kabupaten, juga pengiring event Napak Tilas merupakan bentuk kerjasama antara Barontik dan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. 

 

Iqbal menambahkan jika pemerintah Banjarnegara, termasuk di dalamnya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah menjadi pihak yang sangat mendukung eksistensi dari Barontik. Itulah mengapa, setiap kali Pemerintah Kabupaten Banjarnegara ‘nduwe gawe’ anggota Barontik dengan sepeda onthel antiknya akan selalu hadir. 

 

Kendati menerima dukungan dari pemerintah kabupaten dan menjadi salah satu komunitas besar, ada sebuah tantangan bagi Barontik. Tantangan terbesar anggota Barontik menurut Iqbal adalah kondisi geografis. Sudah umum diketahui jika Banjarnegara memiliki medan yang naik turun. Hal itu membuat anggota Barontik kesulitan saat mendaki jalan yang menanjak. Tidak seperti sepeda MTB yang lebih ringan di tanjakan.

 

"Ada sebagian teman yang memasang gear tambahan untuk sepeda onthelnya sehingga lebih ringan. Namun ini justru yang menjadi ciri khas sepeda onthel jika di tanjakan dituntun atau tidak dinaiki," lanjut Iqbal.

 

Selain keunikan dan ciri khas dengan dituntun saat jalan menanjak, lebih lanjut, Iqbal mengungkap sepeda onthel selain memiliki kelebihan dibanding sepeda lain. Salah satunya adalah material besi kokoh buatan Eropa yang membuat sepeda onthel menjadi lebih kuat dan spesial daripada sepeda lainnya.

 

Keberadaan Barontik sebagai komunitas sendiri telah menjadi sarana untuk ‘nguri-uri pit antik’. Sebab sepeda tua seperti Gazelle, Simplex Amsterdam, Fongers Jerman adalah sepeda jadul yang sebenarnya populer pada tahun 1920-an.

 

Barontik Merawat Budaya dan Mempererat Persaudaraan dengan Lestarikan Onthel Antik. (Banjarnegara.tv/doc Pribadi Barontik)

Pada masa itu, kendaraan yang digunakan pejuang serta pada bangsawan adalah ‘pit onthel’ yang lebih dikenal sebagai sepeda tua. Sehingga zaman sekarang sepeda tua telah menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan. 

 

Barontik yang memiliki salam unik dan beda dari yang lain yaitu ‘Salam kring kring para onthelis lan onthelista’ mempunyai harapan besar. Selain ingin memberi manfaat bagi anggota dan masyarakat umum dengan berbagai kegiatan positif bersama pemerintah kabupaten, ada harapan untuk bisa membentuk KOSTI Kabupaten.

 

Sebagaimana diketahui komunitas sepeda tua telah memiliki komunitas di tingkat nasional yaitu KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). Barontik bersama komunitas sepeda onthel lain di Banjarnegara berharap ke depannya bisa membentuk KOSTI Banjarnegara.

 

Tri Suryantoro, salah satu anggota Barontik mengaku menemukan keluarga baru yang solid sejak bergabung. Tak hanya solid, bagi Tri semua anggota Barontik adalah sosok yang bersahaja yang mengutamakan silaturahmi, etika, dan moralitas. Terlebih, menurutnya ada anggota Barontik yang masih muda sehingga dibutuhkan panutan yang baik. 

 

Barontik bukan sekadar komunitas yang menyalurkan hobi tetapi juga wadah bagi mereka yang ingin ikut andil dalam merawat budaya bangsa. Anggota dan pengurus Barontik juga dengan senang hati menyambut mereka yang ingin berkunjung dan melihat koleksi sepeda tua mereka. Saat ini sekretariat dan basecamp Barontik ada di desa pekauman RT 2 RW 1 kecamatan Madukoro.